Revolusi Bahan Bakar Hidrogen: Mobil Masa Depan
Revolusi Bahan Bakar Hidrogen: Mobil Masa Depan . Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios). Meyakini bahwa transisi dari penggunaan bahan bakar minyak ke bahan bakar hidrogen akan berlangsung lebih cepat. Beberapa negara telah menunjukkan progres signifikan dalam mengembangkan green hydrogen. Termasuk Afrika Selatan, yang memprioritaskan green hydrogen dalam transisi energi melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP).
Dalam skema tersebut, green hydrogen berguna untuk dekarbonisasi transportasi, terutama menggantikan penggunaan solar nelayan. Contoh lain adalah di Inggris, di mana bahan bakar hidrogen telah diadopsi untuk menggantikan kendaraan berbahan bakar minyak.
Selanjutnya, Menurut Bhima, progres hidrogen sangat cepat. Transisi dari kendaraan berbahan bakar minyak ke hidrogen diperkirakan lebih memungkinkan daripada kendaraan listrik. Salah satu alasan utama adalah rantai pasok baterai kendaraan listrik masih bergantung pada material dari pertambangan ekstraktif. Memiliki tingkat emisi karbon tinggi dalam proses smelter dan sumber listriknya sebagian besar berasal dari batu bara di Indonesia.
Bhima menyebut bahwa perusahaan otomotif, terutama pabrikan Jepang, lebih tertarik untuk terlibat dalam transisi hidrogen daripada kendaraan listrik. Hal ini mungkin berdasarkan fakta bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang mendukung produksi hidrogen hijau. Seperti melibatkan PT PLN (Persero) yang baru-baru ini meresmikan 21 unit Green Hydrogen Plant (GHP) di seluruh Indonesia.
Dalam hal ini, PLN memiliki rencana untuk membuat Hydrogen Refueling Station (HRS) atau stasiun pengisian hidrogen untuk mendukung kebutuhan mobil berbahan bakar hidrogen. Dengan 21 unit GHP, PLN mampu memproduksi 199 ton green hydrogen per tahun. Dapat berguna untuk kebutuhan operasional pembangkit dan berbagai kebutuhan lainnya, termasuk kendaraan berbahan bakar hidrogen.
















