Iran dan Rusia Resmi Tinggalkan Dolar AS dalam Perdagangan
Iran dan Rusia Resmi Tinggalkan Dolar AS dalam Perdagangan. Sebuah kesepakatan penting antara Iran dan Rusia mengubah lanskap perdagangan global saat kedua negara tersebut memutuskan untuk membuang mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan beralih menggunakan mata uang lokal mereka masing-masing. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap sanksi keras yang diterapkan oleh negara-negara Barat, yang telah menyulitkan kedua negara dalam mengakses dolar AS dalam transaksi internasional.
Pembentukan Platform Keuangan Baru
Pertemuan kunci antara gubernur bank sentral Iran dan Rusia di Rusia menjadi panggung bagi pembentukan platform keuangan dan perbankan baru yang akan merubah dinamika hubungan perbankan kedua negara. “Pembentukan platform keuangan dan perbankan baru telah membuka ‘babak baru’ dalam hubungan perbankan antara Iran dan Rusia, dengan kedua negara sepakat untuk membuang dolar AS,” kata kantor berita milik Teheran, IRNA, mengutip informasi dari Bank Sentral Iran.
Menjalani Perdagangan dengan Mata Uang Lokal
Menggantikan dolar AS, Iran dan Rusia akan melakukan perdagangan menggunakan mata uang lokal mereka sendiri. Media Turki, Daily Sabah, juga melaporkan bahwa platform seperti sistem pembayaran non-SWIFT dan hubungan perantara bilateral antara kedua negara sekarang menggunakan mata uang nasional Iran dan Rusia.
Akar Sanksi Barat
Penyebab utama dari keputusan ini adalah sanksi yang diberlakukan oleh Barat terhadap kedua negara. Iran telah menghadapi sanksi dan pengucilan setelah melanjutkan program pengayaan nuklir, yang Barat duga memiliki tujuan untuk pengembangan senjata nuklir. Sementara itu, Rusia mendapat ribuan sanksi ekonomi setelah intervensi di Ukraina. Upaya melepaskan diri dari ketergantungan pada dolar AS bukanlah hal baru, khususnya bagi Rusia, yang sebelumnya telah mengusulkan langkah serupa pada pertemuan BRICS di Capetown.
Pandangan Menteri Luar Negeri Rusia
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan pandangan negatif terhadap penggunaan dolar sebagai instrumen campur tangan dalam urusan dalam negeri dan perubahan rezim. Dalam wawancara, Lavrov menyatakan bahwa banyak negara telah bosan dengan dominasi dolar sebagai alat pengaruh dan perubahan rezim.
Langkah Iran dan Rusia ini bisa menjadi sinyal awal dari pergeseran dalam tatanan perdagangan global, dengan mata uang lokal menjadi fokus utama dalam upaya memperkuat kemandirian finansial dan mengurangi ketergantungan pada mata uang dunia yang dominan, yaitu dolar Amerika Serikat.
















