Film “Kiblat” Dikritik karena Menyentuh pada Ibadah Sholat
Film “Kiblat” Dikritik karena Menyentuh pada Ibadah Sholat. Film “Kiblat” menjadi sorotan tajam dalam ranah publik setelah munculnya kritik keras dari tokoh agama, KH Cholil Nafis. Dalam pandangan beliau, film ini dinilai melewati batas dengan cara menggunakan ibadah sholat untuk menciptakan atmosfer horor yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Kritik tersebut menjadi sorotan karena melibatkan elemen sensitif dalam agama Islam, yang dianggap tidak pantas dijadikan bahan untuk menciptakan ketakutan dalam sebuah film.
Dalam poster promosional yang beredar, terlihat adegan seorang individu yang sedang dalam posisi sholat. Namun, yang mencolok adalah penyajian adegan yang menyeramkan, dengan ekspresi wajah yang ditampilkan dengan cara yang menciptakan atmosfer kengerian. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa film tersebut tidak hanya menyinggung secara emosional, tetapi juga bisa mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap praktik keagamaan yang seharusnya disakralkan.
KH Cholil Nafis menegaskan bahwa kontroversi yang sering kali dihasilkan oleh media sebagai strategi pemasaran tidak dapat dibenarkan jika berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Ia memandang bahwa film “Kiblat”, yang menggunakan sholat sebagai alat untuk menimbulkan rasa takut atau menciptakan suasana horor, seharusnya tidak dibiarkan ditonton atau ditayangkan. Bahkan tanpa mengetahui secara pasti isi dari film tersebut karena belum tayang, beliau sudah menyoroti poster dan judulnya yang dianggap sudah melenceng dari substansi yang seharusnya dijunjung tinggi.
Selain itu, Ustad Hilmi Firdausi juga mengeluarkan kritik yang keras terhadap film “Kiblat”. Menurutnya, film ini tidak mendidik dan bahkan bisa membuat sebagian orang menjadi takut untuk melaksanakan ibadah. Ia menekankan bahwa pembuatan film horor yang menggunakan unsur-unsur agama dengan cara yang tidak pantas harus segera dihentikan. Sebagai alternatif, ia mendorong untuk lebih memproduksi film dengan tema religi yang lebih berkualitas dan mendidik.
Kritik dari kedua tokoh agama ini menimbulkan pertanyaan serius tentang etika dalam pembuatan film, terutama ketika menyangkut masalah yang sensitif seperti agama. Meskipun seni memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai tema, namun harus ada batasan moral yang harus dijunjung tinggi, terutama ketika berkaitan dengan hal-hal yang dianggap suci oleh banyak orang. Diharapkan bahwa kritik ini akan menjadi peringatan bagi industri film untuk lebih berhati-hati dalam memilih tema dan cara penyajian, sehingga tidak menyinggung atau melukai perasaan umat beragama.
















