Senjata Nuklir Israel dalam Konflik Hamas di Gaza
Senjata Nuklir Israel dalam Konflik Hamas di Gaza. Rusia mengeluarkan pernyataan tajam terkait wacana penggunaan senjata nuklir oleh Israel dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Hamas di Gaza. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova. Ia telah menyoroti fakta bahwa Israel tampaknya mengakui kepemilikan senjata nuklir, memicu pertanyaan tentang keberadaan senjata ini di wilayah tersebut.
“Pertanyaan nomor satu, ternyata kita sedang mendengar pernyataan resmi tentang keberadaan senjata nuklir?” tegas Zakharova dalam pernyataannya. Menyoroti pengakuan ini dalam konteks konflik Israel-Hamas yang sedang berlangsung.
Pernyataan kontroversial ini muncul setelah Menteri Warisan Israel, Amichai Eliyahu. Ia mengungkapkan bahwa pertimbangan untuk penggunaan senjata nuklir adalah salah satu opsi dalam menghadapi konflik dengan Hamas. Eliyahu menyatakan hal ini dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Israel Kol Barama, menciptakan kegemparan dan kekhawatiran di kalangan komunitas internasional.
Namun, respons terhadap pernyataan Eliyahu sangat bervariasi. Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa pernyataan Eliyahu tidak mencerminkan kebijakan resmi Israel. “Israel tidak akan membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan beroperasi sesuai dengan standar tertinggi hukum internasional,” tegas pernyataan resmi dari kantor Netanyahu.
Reaksi keras juga datang dari Amerika Serikat (AS), sekutu Israel. Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Vedant Patel, menyatakan bahwa pernyataan tersebut merupakan bagian dari retorika kebencian dan menekankan pentingnya menahan diri dari retorika yang memprovokasi.
Di tingkat regional, Arab Saudi juga ikut merespons pernyataan Eliyahu. Kementerian Luar Negeri Saudi mengecam penyebaran ekstremisme dan kebrutalan oleh pejabat Israel, menilai tindakan Israel sebagai melanggar standar dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara konflik berlanjut di Gaza, kekhawatiran dunia internasional semakin meningkat. Pernyataan kontroversial ini tidak hanya menciptakan ketegangan di wilayah Timur Tengah tetapi juga mengguncang stabilitas global. Dunia menantikan langkah-langkah selanjutnya dari pihak-pihak terkait dalam menyelesaikan konflik ini, sembari berharap agar perdamaian dan keadilan dapat segera ditegakkan di kawasan tersebut.
















