Waspadai Status Siaga Gunung Api Ile Lewotolok NTT
Waspadai Status Siaga Gunung Api Ile Lewotolok NTT. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperingatkan masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dekat puncak Gunung Api Ile Lewotolok, yang terletak di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena status gunung tersebut telah mencapai level III atau Siaga.
“Rekomendasi saat ini adalah agar masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak memasuki atau melakukan aktivitas di radius dua kilometer dari pusat aktivitas dan sektor selatan tenggara tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok, Jeffry Pugel, di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, pada hari Jumat.
Pernyataan tersebut dikeluarkan sebagai tanggapan atas informasi tentang upaya pendakian oleh wisatawan asing ke puncak gunung tersebut pada Kamis sebelumnya. Jeffry menegaskan bahwa rekomendasi tersebut telah disusun berdasarkan evaluasi menyeluruh atas tingkat aktivitas gunung saat ini.
Badan Geologi telah secara rutin menyebarkan informasi tentang status aktivitas gunung kepada masyarakat setiap hari. Selain itu, tindakan mitigasi bencana juga telah dilakukan dengan pemasangan rambu peringatan keselamatan di kawasan rawan bencana.
Jeffry menekankan pentingnya kerja sama dari semua pihak, termasuk pemerintah desa dan masyarakat, dalam menghadapi situasi ini. Dia menyatakan bahwa aktivitas pendakian di tengah status Siaga gunung sangat berisiko, dan oleh karena itu, rekomendasi tentang radius bahaya harus dipahami oleh semua pihak.
“Saya telah berkoordinasi dengan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menyampaikan informasi ini kepada pemerintah desa,” kata Jeffry.
Gunung Api Ile Lewotolok adalah satu-satunya gunung api di NTT yang saat ini berada pada level Siaga. Berdasarkan evaluasi Badan Geologi pada periode 16-22 April 2024, tercatat tingginya aktivitas erupsi dan hembusan asap, yang cenderung meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Ancaman letusan eksplosif masih ada, dan jumlah gempa juga menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Dalam menghadapi kondisi ini, kesadaran dan kepatuhan terhadap rekomendasi dari Badan Geologi menjadi kunci untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat dan wisatawan. Mitigasi bencana dan koordinasi antarpihak juga perlu ditingkatkan untuk mengurangi risiko dan dampak yang mungkin timbul akibat aktivitas gunung yang meningkat.
















