Barry Diller, seorang miliarder dan pendiri perusahaan media terkenal, telah mengungkapkan keprihatinannya tentang kekurangan regulasi dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT. Dalam pandangannya, hukum yang berlaku saat ini tidak memberikan perlindungan yang memadai bagi pencipta konten, dan platform AI dapat dengan mudah memanfaatkan karya manusia tanpa izin atau kompensasi yang wajar. Diller menyoroti pentingnya mendefinisikan ulang konsep “penggunaan yang adil” untuk menghindari pelanggaran hak cipta oleh AI. Dalam konteks AI, menurutnya, konsep “penggunaan yang adil” tidak berlaku. Hal ini memicu diskusi tentang bagaimana mencapai keseimbangan antara kemajuan teknologi dan perlindungan hak cipta.
















