Deepfake Hoaks: Pidato Bahasa Mandarin Jokowi Ternyata Palsu
Deepfake Hoaks: Pidato Bahasa Mandarin Jokowi Ternyata Palsu. Beredar luas sebuah video yang menampilkan Presiden Joko Widodo berpidato dalam bahasa Mandarin. Video itu menciptakan kegemparan di tengah publik. Namun, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Semuel A. Pangerapan, dengan tegas menyatakan bahwa video tersebut hanyalah hasil suntingan atau deepfake.
Menurut penelusuran Tim AIS Kementerian Kominfo, video tersebut memiliki kesamaan dengan konten yang unggahan di kanal YouTube The U.S. – Indonesia Society (USINDO) pada November 2015. Meskipun secara visual identik, video tersebut telah mengalami penyuntingan menggunakan teknologi deepfake, yaitu kecerdasan buatan (AI) yang memanipulasi citra dan suara untuk menciptakan konten yang menyesatkan.
Semuel menegaskan bahwa dalam konteks aslinya, Presiden Joko Widodo tidak pernah menggunakan bahasa Mandarin dalam pidatonya. Ia menyebutkan bahwa video tersebut merupakan bentuk disinformasi yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Wakil Menteri Kominfo, Nezar Patria, juga mengungkapkan bahwa banyak orang yang awalnya percaya pada deepfake tersebut. Termasuk orang-orang yang cukup mahir dalam penggunaan teknologi digital. Ia menyoroti potensi ancaman dari generatif AI pada deepfake, yang dapat menciptakan kekacauan dalam penyebaran informasi.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, Kominfo mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam mengonsumsi informasi dan merujuk pada sumber-sumber tepercaya. Pada konteks yang lebih luas, pihak berwenang di Indonesia juga tengah mengatur pemanfaatan kecerdasan buatan melalui draf Surat Edaran AI yang berisi pedoman dan ketentuan etis. Tujuannya adalah memaksimalkan manfaat teknologi AI sambil menghindari dampak negatif dan penyalahgunaan.
















