Indonesia Siap Bergabung dalam Gelombang Kecerdasan Buatan
Indonesia Siap Bergabung dalam Gelombang Kecerdasan Buatan. Ledakan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah merambah dunia bisnis secara global. Indonesia tidak mau ketinggalan dalam fenomena adopsi teknologi ini. Menurut survei “AI Readiness Index” dari Cisco, Indonesia berada di jalur yang benar dalam proses adopsi AI ke sektor bisnis. Hasil survei ini melibatkan lebih dari 8.000 pemimpin bisnis di 30 negara, termasuk Indonesia. Hal ini memberikan gambaran bahwa perusahaan-perusahaan di Tanah Air semakin bersiap mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam operasional mereka.
Marina Kacaribu, Country Managing Director Cisco Indonesia menjelaskan. Meskipun Indonesia telah mengambil langkah positif dalam adopsi AI, masih ada sejumlah aspek yang harus terselesaikan agar adopsi ini berjalan lancar. Seperti, infrastruktur yang aman, sumber daya manusia, data yang terintegrasi dan aman, serta perubahan dalam budaya kerja.
Menurut survei AI Readiness Index, sekitar 20% perusahaan di Indonesia dapat kategori sebagai “Pacesetters” atau sepenuhnya siap mengadopsi AI. Angka ini lebih tinggi daripada rata-rata global sebesar 14% untuk kategori yang sama. Sementara 59% perusahaan di Indonesia sudah cukup siap, 28% sebagai “Followers” (kesiapan terbatas), dan hanya 1% yang terkesan tidak siap.
Survei tersebut juga mengidentifikasi enam pilar penilaian utama untuk menentukan kesiapan adopsi AI, yaitu strategi, infrastruktur, data, tata kelola, sumber daya manusia, dan budaya kerja. Pilar “strategi” menonjol dengan 86% perusahaan sedang mengembangkan strategi AI yang jelas.
Meskipun hasil survei memberikan gambaran positif, infrastruktur menjadi salah satu tantangan utama. Hanya 29% perusahaan lokal yang dikategorikan sebagai “Pacesetters” dalam aspek infrastruktur, dan 33% sebagai “Followers” atau “Laggards.” Kemampuan komputasi, khususnya GPU untuk mendukung beban kerja AI di masa depan, menjadi salah satu fokus perusahaan.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya adopsi AI, harapannya perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat terus memperbaiki aspek-aspek yang masih perlu pengembangan untuk meraih potensi penuh dari teknologi kecerdasan buatan.
















