Konflik AS-China Mengancam Perkembangan Industri Teknologi
Konflik AS-China Mengancam Perkembangan Industri Teknologi. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China semakin meruncing, membawa dampak serius pada industri teknologi global. Kedua negara saling memblokir teknologi, memperlambat kemajuan industri satu sama lain.
Morris Chang, pendiri raksasa semikonduktor TSMC, angkat suara tentang implikasi negatif dari hubungan AS-China terhadap industri ini.
Menurutnya, perpecahan antara kedua negara ini akan menghambat perkembangan industri semikonduktor global secara keseluruhan. Dalam kata lain, perkembangan teknologi secara menyeluruh akan melambat. “Sepertinya kedua negara ini tidak bisa bersatu, dan hal ini sangat mengkhawatirkan saya,” ujarnya, merujuk pada konflik yang terus berlanjut.
TSMC memegang peran krusial dalam dinamika AS-China. Perusahaan ini adalah raksasa semikonduktor berbasis di Taiwan, sebuah pulau yang memiliki hubungan yang rumit dengan China. China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya, dan ketegangan ini dapat menjadi ancaman serius bagi rantai pasokan chip global.
TSMC memiliki portofolio klien yang sangat luas di AS, termasuk perusahaan-perusahaan besar seperti Apple, Qualcomm, AMD, Nvidia, dan Intel. AS juga memberikan subsidi miliaran dolar kepada TSMC untuk mendukung pembangunan laboratorium produksi, termasuk fasilitas yang akan memproduksi chip paling canggih dengan proses manufaktur 3nm pada tahun 2026 di Arizona.
“Secara keseluruhan, konflik antara AS dan China akan berdampak buruk bagi semua pihak,” ungkap Chang. Dia menekankan bahwa pengembangan industri chip tidak lagi menuju globalisasi, melainkan dianggap sebagai aspek keamanan nasional. Dalam konteks konflik yang terus berlanjut, pengembangan teknologi chip diyakini akan terhambat, membawa implikasi serius bagi industri teknologi global.
















