Kontroversi Obat yang Telah Bunuh 17.000 Orang
Kontroversi Obat yang Telah Bunuh 17.000 Orang. Sekitar 17.000 orang diperkirakan meninggal dunia akibat mengonsumsi hydroxychloroquine selama pandemi Covid-19. Obat anti-malaria ini, yang sempat dipromosikan oleh Donald Trump sebagai solusi untuk menyembuhkan Covid-19, menjadi fokus penelitian oleh ilmuwan Prancis.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Biomedicine & Pharmacotherapy mengungkapkan bahwa hydroxychloroquine sering diresepkan kepada pasien selama gelombang awal pandemi, meskipun tidak ada bukti klinis yang menunjukkan khasiatnya. Diperkirakan sekitar 16.990 orang di enam negara, termasuk Prancis, Belgia, Italia, Spanyol, Turki, dan Amerika Serikat, meninggal dunia akibat penggunaan obat tersebut.
Angka tersebut berasal dari studi yang dipublikasikan di jurnal sains Nature pada 2021, yang melaporkan bahwa pemberian resep hydroxychloroquine menyebabkan kenaikan angka kematian sebesar 11 persen dalam kasus Covid-19. Obat ini juga ditemukan menimbulkan efek negatif pada penderita Covid-19, termasuk gangguan detak jantung.
Penelitian ini mencoba menganalisis sejauh mana paparan hydroxychloroquine di pasien Covid dan kenaikan risiko kematian yang terkait dengan obat tersebut. Meskipun angka tersebut mungkin lebih tinggi karena hanya mencakup periode Maret hingga Juli 2020 di enam negara, kontroversi seputar keamanan dan efektivitas hydroxychloroquine semakin memanas.
Promosi obat ini oleh Donald Trump dan beberapa ahli kesehatan terkemuka pada awal pandemi menambah tingkat kontroversi dan memunculkan pertanyaan serius tentang dampak penggunaannya dalam penanganan Covid-19.
















