• Tim Redaksi
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
Kamis, 30 April 2026
  • Home
  • Dunia
  • Nasional
  • Teknologi
    Lindungi Privasi: Cara Menghindari Kebocoran Data dan Nomor

    Lindungi Privasi: Cara Menghindari Kebocoran Data dan Nomor

    Bagaimana Cara Masyarakat Berhenti dari Jerat Judi Online?

    Bagaimana Cara Masyarakat Berhenti dari Jerat Judi Online?

    Michael Bay Bawa Sensasi Internet Skibidi Toilet ke Layar Lebar

    Michael Bay Bawa Sensasi Internet Skibidi Toilet ke Layar Lebar

    Dampak TikTok pada Anak-Anak: Sebuah Tinjauan

    Dampak TikTok pada Anak-Anak: Sebuah Tinjauan

    Keluar dari Jeratan Judi Online: Membangun Kembali Kebebasan

    Keluar dari Jeratan Judi Online: Membangun Kembali Kebebasan

    Dampak Buruk Kecanduan Judi Online: Jeratan Tersembunyi

    Dampak Buruk Kecanduan Judi Online: Jeratan Tersembunyi

    Trending Tags

    • Sillicon Valley
    • Climate Change
    • Election Results
    • Flat Earth
    • Golden Globes
    • MotoGP 2017
    • Mr. Robot
  • Sains
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    Tom Daley Kembali Merajut di Olimpiade Paris: Buat Sweater

    Tom Daley Kembali Merajut di Olimpiade Paris: Buat Sweater

    Terapi Lintah untuk Jerawat: Mitos atau Fakta?

    Terapi Lintah untuk Jerawat: Mitos atau Fakta?

    Dampak Makan Mie Setiap Hari: Lebih dari Sekedar Kenyang

    Dampak Makan Mie Setiap Hari: Lebih dari Sekedar Kenyang

    Cara Makan Secara Sunah Nabi: Teladan Sehat dan Berkah

    Cara Makan Secara Sunah Nabi: Teladan Sehat dan Berkah

    Begini Sanksi Paling Efektif untuk Mencegah Praktik Joki Skripsi

    Begini Sanksi Paling Efektif untuk Mencegah Praktik Joki Skripsi

    Sanksi Tepat untuk Pelaku Praktik Joki Skripsi: Berantas Curang

    Sanksi Tepat untuk Pelaku Praktik Joki Skripsi: Berantas Curang

    Peran Orang Tua dalam Mencegah Anak Menggunakan Jasa Joki

    Peran Orang Tua dalam Mencegah Anak Menggunakan Jasa Joki

    Maraknya Praktik Joki Skripsi dan Tesis: Ancaman Pendidikan

    Maraknya Praktik Joki Skripsi dan Tesis: Ancaman Pendidikan

    Pendekar Anggar Mesir Nada Hafez: Tetap Bertanding Meski Hamil

    Pendekar Anggar Mesir Nada Hafez: Tetap Bertanding Meski Hamil

    Penanganan Pertama Saat Tergigit Lintah: Panduan Lengkap

    Penanganan Pertama Saat Tergigit Lintah: Panduan Lengkap

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
  • Home
  • Dunia
  • Nasional
  • Teknologi
    Lindungi Privasi: Cara Menghindari Kebocoran Data dan Nomor

    Lindungi Privasi: Cara Menghindari Kebocoran Data dan Nomor

    Bagaimana Cara Masyarakat Berhenti dari Jerat Judi Online?

    Bagaimana Cara Masyarakat Berhenti dari Jerat Judi Online?

    Michael Bay Bawa Sensasi Internet Skibidi Toilet ke Layar Lebar

    Michael Bay Bawa Sensasi Internet Skibidi Toilet ke Layar Lebar

    Dampak TikTok pada Anak-Anak: Sebuah Tinjauan

    Dampak TikTok pada Anak-Anak: Sebuah Tinjauan

    Keluar dari Jeratan Judi Online: Membangun Kembali Kebebasan

    Keluar dari Jeratan Judi Online: Membangun Kembali Kebebasan

    Dampak Buruk Kecanduan Judi Online: Jeratan Tersembunyi

    Dampak Buruk Kecanduan Judi Online: Jeratan Tersembunyi

    Trending Tags

    • Sillicon Valley
    • Climate Change
    • Election Results
    • Flat Earth
    • Golden Globes
    • MotoGP 2017
    • Mr. Robot
  • Sains
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    Tom Daley Kembali Merajut di Olimpiade Paris: Buat Sweater

    Tom Daley Kembali Merajut di Olimpiade Paris: Buat Sweater

    Terapi Lintah untuk Jerawat: Mitos atau Fakta?

    Terapi Lintah untuk Jerawat: Mitos atau Fakta?

    Dampak Makan Mie Setiap Hari: Lebih dari Sekedar Kenyang

    Dampak Makan Mie Setiap Hari: Lebih dari Sekedar Kenyang

    Cara Makan Secara Sunah Nabi: Teladan Sehat dan Berkah

    Cara Makan Secara Sunah Nabi: Teladan Sehat dan Berkah

    Begini Sanksi Paling Efektif untuk Mencegah Praktik Joki Skripsi

    Begini Sanksi Paling Efektif untuk Mencegah Praktik Joki Skripsi

    Sanksi Tepat untuk Pelaku Praktik Joki Skripsi: Berantas Curang

    Sanksi Tepat untuk Pelaku Praktik Joki Skripsi: Berantas Curang

    Peran Orang Tua dalam Mencegah Anak Menggunakan Jasa Joki

    Peran Orang Tua dalam Mencegah Anak Menggunakan Jasa Joki

    Maraknya Praktik Joki Skripsi dan Tesis: Ancaman Pendidikan

    Maraknya Praktik Joki Skripsi dan Tesis: Ancaman Pendidikan

    Pendekar Anggar Mesir Nada Hafez: Tetap Bertanding Meski Hamil

    Pendekar Anggar Mesir Nada Hafez: Tetap Bertanding Meski Hamil

    Penanganan Pertama Saat Tergigit Lintah: Panduan Lengkap

    Penanganan Pertama Saat Tergigit Lintah: Panduan Lengkap

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Home Dunia

Misteri balon udara China “mata-matai” AS

by administrator
10 Februari 2023
in Dunia
0
Foto arsip - Sebuah jet tempur terbang melewati benda diduga balon mata-mata China di atas lepas pantai Surfside Beach di South Carolina, Amerika Serikat, pada 4 Februari 2023. (REUTERS/RANDALL HILL)

Foto arsip - Sebuah jet tempur terbang melewati benda diduga balon mata-mata China di atas lepas pantai Surfside Beach di South Carolina, Amerika Serikat, pada 4 Februari 2023. (REUTERS/RANDALL HILL)

Jakarta – Awalnya berasal dari satu cuitan seorang fotografer di Billings di Montana, insiden balon udara China membesar hingga memaksa Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken membatalkan kunjungan ke China yang seharusnya dilakukan awal Februari ini.

Billings adalah sebuah kota di negara bagian Montana di pedalaman AS. Negara bagian ini sejajar ke barat dengan negara bagian Idaho dan Washington yang bertepi Samudera Pasifik.

RelatedPosts

Tom Daley Kembali Merajut di Olimpiade Paris: Buat Sweater

Pendekar Anggar Mesir Nada Hafez: Tetap Bertanding Meski Hamil

Harapan Indonesia Tergantung pada Fajar/Rian dan Gregoria

China dan Asia terpisahkan dari AS dan benua Amerika oleh samudera itu.

Chase Doak, nama sang fotografer, mengabadikan sebuah benda bulat putih besar yang terbang pelan di langit dengan lensa tele 500 milimeter.

“Jujur. Awalnya saya kira ini UFO (piring terbang). Ternyata balon mata-mata China!” cuit Doak, menerangkan fotonya itu dalam Twitter pada 3 Februari.

Semula tak banyak yang tertarik dengan cuitan Doak. Yang “like” pun cuma ratusan. Namun, setelah dikupas pers, cuitan itu viral sampai mengusik orang-orang penting seperti mantan presiden Donald Trump. Apalagi cuitan ini memuat dua kata sensitif di AS, yakni “mata-mata” dan “China”.

“Tembak jatuh balon itu,” seru Trump dalam platform media sosialnya, Truth Social.

Seruan serupa juga diterbitkan oleh New York Post. Koran berkecenderungan kanan milik Rupert Murdoch ini menurunkan headline berjudul “Pecahkan balon ini!”.

Akhirnya, pemerintahan Presiden Joe Biden tegas bersikap.

Sabtu 4 Februari objek itu pun dirudal oleh jet tempur berteknologi siluman, F-22, di atas pantai South Carolina setelah balon terbang berhari-hari di wilayah udara AS dalam ketinggian 18.300 meter.

South Carolina adalah negara bagian bertepi Samudera Atlantik.

Artinya, balon udara China itu telah melintasi wilayah AS dari pesisir baratnya yang bertepi Samudera Pasifik sampai pesisir timurnya yang bertepi Samudera Atlantik.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menegaskan benda terbang yang disebutnya tak berawak dan tak berbahaya itu, tanpa sengaja masuk wilayah udara AS.

Insiden Sendai
Balon yang disebut-sebut membawa wahana intelijen ini berukuran setara tiga bus. Tingginya 61 meter dan bisa membawa muatan hampir satu ton.

Sejumlah kalangan Barat menganggap insiden ini bentuk kecerobohan China ketika saat bersamaan mereka tengah menunggu kedatangan Antony Blinken dalam momen yang sesungguhnya dinantikan China, di tengah hubungan yang genting antara keduanya, khususnya karena masalah Taiwan.

Sebagian kalangan lainnya menduga insiden ini sudah direncanakan China sehingga pernyataan China bahwa balon ini tak sengaja terbang ke wilayah AS, dianggap pembelaan semata.

Netizen AS bahkan menyindir dalih China bahwa balon itu terbang untuk keperluan misi penelitian meteorologi. Salah satunya dengan sinis bertanya, “mengapa China peduli banget kepada kondisi cuaca di sini (AS), bukan negerinya sendiri?”.

Kemudian, citra resolusi tinggi yang dibuat pesawat mata-mata U-2 yang terbang melewati balon udara itu sebelum ditembak jatuh, justru menunjukkan ada peralatan mata-mata di dalam balon itu. Ini membantah klaim China bahwa benda itu tengah meneliti cuaca.

Saat ditanya wartawan apakah Presiden China Xi Jinping mengetahui insiden ini, Antony Blinken secara implisit menyatakan pemerintah China memang mengetahuinya sehingga harus bertanggung jawab.

Blinken malah menyatakan telah membagikan hasil penaksiran AS mengenai balon China ini dengan sekutu-sekutu Amerika di seluruh dunia.

Yang terjadi kemudian, balon raksasa itu tidak hanya satu yang terbang di atas AS. Masih ada yang terbang jauh hingga ke selatan benua Amerika.

Muncul pertanyaan, apakah insiden semacam ini baru kali ini terjadi atau sudah lama, setelah Jepang mengaku pernah juga melihat balon serupa itu terbang di atas wilayahnya pada 2020.

Media massa Jepang kini aktif mengulas peristiwa dua tahun silam di Sendai, Prefektur Miyagi. Prefektur ini berada di bagian timur Pulau Honsu yang juga tempat ibu kota Tokyo berada.

Ketika itu warga Jepang masih disibukkan pandemi COVID-19 dan suasana kecewa akibat Olimpiade 2020 ditunda yang baru digelar setahun kemudian.

Ternyata, sama dengan kekhawatiran sejumlah kalangan di AS bahwa balon itu terbang di atas zona-zona pertahanan sensitif, termasuk situs peluncur peluru kendali nuklir. Balon yang terbang di Jepang juga memiliki pola lintasan seperti itu.

Miyagi adalah tempat untuk kebanyakan pangkalan udara dan pangkalan militer Pasukan Bela Diri Jepang.

Ini yang lalu memunculkan kekhawatiran bahwa balon udara itu bukan balon biasa. Lintasan terbangnya seperti sudah direncanakan atau sengaja diarahkan.

Ada pula yang beranggapan adalah sulit mengarahkan balon udara terbang mengikuti rute yang diinginkan, karena faktor angin. Apalagi angin musim dingin seperti sekarang yang lebih sulit lagi untuk dikendalikan.

Hanya bisa menduga
Sampai kini, tak ada yang tahu pasti motif China menerbangkan balon raksasa itu. Semua hanya bisa menduga.

Salah satu dugaan itu adalah China tengah memberi pesan kepada AS bahwa mereka tak segan memakai instrumen apa pun untuk membuat pihak-pihak yang mengancam mereka, menjadi sama tidak nyamannya dengan mereka.

Lain hal, China tampak sudah menghitung apa reaksi AS. Buktinya, Presiden Biden menepis adanya hubungan buruk dengan China gara-gara insiden balon itu, apalagi membuka front baru ketika tengah aktif menghadapi Rusia di Ukraina adalah sungguh langkah yang tidak elok.

Bisa pula pesan itu disampaikan oleh faksi-faksi lain dalam elite kekuasaan China, paling tidak untuk menegaskan posisi tawar China yang lebih tinggi.

Di negara yang katup informasinya rapat tertutup seperti China, memang sulit memverifikasi adanya faksi-faksi politik itu.

Namun, berkaca dari sejumlah kejadian besar seperti Peristiwa Tiananmen 1989, memang acap terjadi pertarungan kekuasaan terselubung di antara elite kekuasaan China. Dalam dunia politik mana pun, hal semacam ini lumrah terjadi.

Sistem kekuasaan China yang sentralistis dalam genggaman Partai Komunis memang begitu besar dan luas sekaligus solid, tetapi fakta ini tak menghilangkan kemungkinan adanya faksi-faksi kepentingan yang saling bersaing yang memang biasa dalam politik dan sistem kekuasaan.

Masalahnya, aspek ini tak bisa diamati lebih jauh, mengingat terbatasnya sumber informasi.

Untuk itu, skenario ini untuk sementara bisa dikesampingkan. Gantinya, adalah menjawab pertanyaan, jika memang berkaitan dengan spionase, mengapa China menggunakan balon udara yang sudah ketinggalan zaman?

Pertanyaan ini kian menarik karena China memiliki segudang satelit canggih yang jauh lebih tepat, lebih modern, dan lebih bisa menghindarkan konflik ketimbang menerbangkan balon udara.

China adalah satu dari segelintir aktor utama politik dunia yang menjadi pemain penting dalam eksplorasi luar angkasa yang sudah menjadi medan tempur negara-negara besar.

Sampai 2020 saja, sudah sekitar 6.000 satelit mengorbit Bumi. Dari angka ini, 40 persen di antaranya satelit aktif.

Seperlima dari ribuan satelit itu difungsikan untuk tujuan-tujuan militer. Di sini, AS adalah kolektor terbanyak, baik satelit militer maupun sipil-komersial.

Dalam kondisi seperti ini, jangan-jangan China mungkin malah cuma sedang ingin mengingatkan dunia betapa langit sudah menjadi pintu masuk teramat lapang untuk mengintip isi dunia, termasuk objek-objek paling dirahasiakan seperti instalasi militer.

Memicu kewaspadaan global
Insiden balon mata-mata ini sendiri akhirnya menyingkapkan kesengitan negara-negara besar untuk saling memata-matai demi melanggengkan dominasi global mereka.

Sepanjang tidak memicu konflik, mungkin itu tak apa. Para pemimpin AS dan China sendiri tampak berusaha menghindari kondisi yang membuat mereka berbalas retorika terlalu keras.

Bisa jadi ini terjadi karena sebenarnya mereka sama-sama menyadari bahwa mereka aktif saling mengintai dengan menggunakan segala perangkat dan teknologi canggih yang dipunyai.

AS menyebut insiden balon ini pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negaranya, tetapi semua orang tahu AS juga aktif mengerahkan sumber daya pertahanannya untuk memata-matai China.

Sebaliknya, China mengutuk aksi AS menembak jatuh balon udaranya sebagai berlebihan, tapi semua orang tahu China bakal menempuh langkah yang sama jika hal sama terjadi pada mereka.

Intinya, AS dan China mungkin tengah bersandiwara sambil berusaha berlomba mengail insentif besar dari setiap manuver politiknya.

Sebaliknya, persoalan ini akan tetap menjadi misteri bagi awam. Tak apalah, sepanjang semua itu tidak membuat kedua adidaya ini berkonfrontasi militer secara terbuka.

Yang jelas, negara-negara lain yang memiliki kemampuan pertahanan dan militer yang cukup, termasuk Indonesia, semestinya tak lagi menganggap biasa benda-benda asing yang terbang di atas wilayahnya.

Negara-negara lain bisa terpacu meningkatkan kesiagaan dan kewaspadaan sistem pertahanan dan intelijen mereka, bukan semata gara-gara insiden balon itu, tapi lebih karena keniscayaan.

Source: Antara
Tags: Balon UdaraMata-mata AS
Previous Post

Jokowi akan resmikan pabrik pupuk dan serahkan KUR di Aceh

Next Post

Aplikasi Pintu luncurkan fitur Lapor Pajak, dorong pengguna bayar pajak kripto

Next Post
Ilustrasi tampilan fitur Lapor Pajak dalam aplikasi Pintu. (ANTARA/HO)

Aplikasi Pintu luncurkan fitur Lapor Pajak, dorong pengguna bayar pajak kripto

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Tom Daley Kembali Merajut di Olimpiade Paris: Buat Sweater
  • Terapi Lintah untuk Jerawat: Mitos atau Fakta?
  • Dampak Makan Mie Setiap Hari: Lebih dari Sekedar Kenyang
  • Cara Makan Secara Sunah Nabi: Teladan Sehat dan Berkah
  • Begini Sanksi Paling Efektif untuk Mencegah Praktik Joki Skripsi

Recent Comments

  1. Andiko mengenai KPU Tetapkan Prabowo-Gibran Jadi Presiden dan Wakil Presiden
  2. Andiko mengenai Apa Penyebab Kecurangan dalam Pemilu 2024?
  3. Andiko mengenai Apa Penyebab Kecurangan dalam Pemilu 2024?
  4. Andiko mengenai Begini Anggaran Pemilu 2024 dan Dampaknya bagi Ekonomi
  5. Andiko mengenai Prabowo Unggul di Quick Count: Ini Daftar 6 Janjinya

Tentang Kami

Diginews.co.id

Portal Berita Independen, Terdepan, dan Terpercaya

Kategori Berita

  • Bisnis
  • Dunia
  • Gaya Hidup
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sains
  • Tanpa Kategori
  • Teknologi

Menu Bantuan

  • Tim Redaksi
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

© 2020 Digi News - All Rights Reserved..

No Result
View All Result
  • Home
  • Dunia
  • Nasional
  • Teknologi
  • Sains
  • Olahraga
  • Gaya Hidup