Indonesia menorehkan prestasi dengan tarif internet terendah di Asia Tenggara, hanya US$0,42 per 1 GB. Namun, mahal atau murahnya tarif adalah relatif. Menurut Dirjen SDPPI, Ismail, yang penting tarif terjangkau sesuai daya beli masyarakat.
Intervensi pemerintah terhadap harga tarif dianggap sebagai langkah darurat dan tak berlaku setiap saat. Namun, perlu ditegaskan bahwa harga yang terlalu murah bisa mengorbankan kualitas layanan, menurut Muhammad Buldansyah dari Indosat Ooredoo Hutchison.
Sementara CEO XL Axiata, Dian Siswarini, mencatat bahwa pengeluaran telekomunikasi masyarakat Indonesia masih rendah dengan ARPU sekitar Rp 40 ribu. Meski harga tarif rendah menarik, tetap perlu mempertimbangkan kualitas layanan dan keberlanjutan bisnis di era digital ini.
















