Tuduhan Amazon Merugikan Konsumen Miliaran Dolar
Tuduhan Amazon Merugikan Konsumen Miliaran Dolar. Amazon.com, beredar kontroversi setelah dugaan menggunakan strategi ilegal untuk meningkatkan profit. Tuduhan ini mencakup penggunaan algoritma rahasia yang membuat warga Amerika Serikat harus membayar lebih mahal. Ini merugikan konsumen hingga mencapai angka sekitar US$1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun.
Tuduhan ini terungkap oleh Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) dalam pengajuan pengadilan baru pada Kamis (2/11). Menindaklanjuti gugatan FTC pada bulan September lalu. Menurut FTC, Amazon menciptakan algoritma rahasia. Melalui kode internal ‘Project Nessie’ untuk mengidentifikasi produk tertentu yang kiranya akan mengalami kenaikan harga. Amazon kemudian meningkatkan harga produk tersebut setelah pesaing di e-commerce lainnya mengikuti lonjakan harga yang mereka tetapkan.
Juru bicara Amazon, Tim Doyle, membantah tuduhan ini. Ia menyatakan bahwa FTC salah mengartikan alat penetapan harga tersebut. Lalu, mengklaim bahwa perusahaan telah berhenti menggunakannya beberapa tahun lalu. Namun, surat gugatan menyebutkan bahwa Amazon mulai menguji algoritma penetapan harga ini pada tahun 2010. Hanya untuk melihat apakah toko online lain melacak harga di Amazon. Setelah pesaing mulai menyesuaikan atau meningkatkan harga, Amazon terus menjual produk dengan harga yang terus melonjak. Praktik ini, menurut FTC, memungkinkan Amazon meraih tambahan laba hingga US$ 1 miliar.
Algoritma Nessie disebut oleh FTC sebagai metode persaingan tidak sehat karena memanipulasi toko online lain untuk menaikkan harga, memberikan kesempatan bagi Amazon untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, FTC juga menyatakan bahwa Amazon berusaha menyembunyikan informasi tentang operasi ini dari penegak antimonopoli dengan menggunakan fitur pesan yang menghilang pada aplikasi perpesanan Signal dan menghancurkan komunikasi dari Juni 2019 hingga awal 2022.
Tuduhan ini menyoroti masalah serius dalam dunia perdagangan elektronik dan menggugah pertanyaan tentang etika dan transparansi dalam kompetisi bisnis di era digital. Sementara Amazon membantah tuduhan ini, kasus ini tetap mengundang perhatian publik dan menjadi perhatian serius bagi otoritas regulasi dan konsumen di seluruh dunia.
















