Uni Eropa Beri Ultimatum ke TikTok: Bersihkan Disinformasi
Uni Eropa Beri Ultimatum ke TikTok: Bersihkan Disinformasi. Pada 7 Oktober, Perang Gaza menciptakan gelombang serangan yang tak berhenti oleh Israel, menewaskan 10.000 orang dan menciptakan situasi genting di Palestina. Di tengah konflik ini, dunia maya menjadi medan pertempuran informasi yang penuh kontroversi.
Uni Eropa telah mengingatkan platform media sosial, termasuk TikTok, untuk membersihkan disinformasi yang tersebar luas terkait konflik ini. Komisioner Uni Eropa, Thierry Breton, memberi perintah khusus kepada TikTok untuk mengatasi masalah ini. Bulan lalu, Breton memberikan batas waktu hingga 25 Oktober untuk memblokir semua informasi sesat.
Breton memerintahkan TikTok untuk mengungkapkan strategi pembersihan disinformasi mereka hingga 8 November. TikTok telah mengklaim telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi pengguna dari disinformasi, tetapi Uni Eropa tetap memeriksa efektivitasnya. Dalam kasus pelanggaran, platform-platform tersebut bisa dikenakan denda hingga 6% dari pendapatan mereka di wilayah Eropa.
TikTok, selama beberapa bulan terakhir, telah mengklaim telah mengimplementasikan berbagai fitur untuk melindungi penggunanya dari disinformasi. Perusahaan ini juga mengatakan telah menginvestasikan sumber daya besar untuk memoderasi konten yang ada di platformnya. Namun, meskipun upaya tersebut telah diakui oleh Uni Eropa, mereka mengatakan akan melakukan investigasi lebih lanjut untuk menilai efektivitasnya dan apakah sudah cukup memenuhi aturan DSA (Digital Services Act) yang berlaku di wilayah Eropa.
DSA merupakan regulasi yang mengikat bagi penyedia platform online, yang mengharuskan mereka untuk bertanggung jawab atas penyebaran disinformasi di internet. Raksasa teknologi yang gagal memerangi disinformasi bisa menghadapi sanksi berat berupa denda sebesar 6% dari total pendapatan mereka di wilayah Eropa.
Dalam responsnya, Direktur Kebijakan Publik TikTok, Caroline Greer, menyampaikan kepuasan atas pengakuan Breton terhadap upaya yang telah mereka lakukan. Namun, tantangan besar masih menanti TikTok dalam memastikan bahwa platformnya bersih dari informasi yang tidak akurat dan merugikan, terutama di tengah konflik yang masih terus berlanjut di Gaza.
















