Kabar tentang munculnya varian baru Covid-19 yang disebut ‘Eris’ atau Omicron EG.5.1 telah mengundang perhatian di seluruh dunia. Di Indonesia, varian ini juga telah masuk sejak sekitar Juni 2023. Namun, walaupun saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengklasifikasikan ‘Eris’ sebagai varian under monitoring (VUM), masyarakat tetap diingatkan untuk tetap waspada terhadap gejala dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.
Salah satu perbedaan utama dari varian ‘Eris’ adalah gejalanya yang cukup berbeda dari varian lainnya. Menteri Kesehatan (Menkes RI), Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa gejala yang muncul pada pasien yang terinfeksi varian ini tidak termasuk demam seperti pada varian lainnya. Meskipun gejala ini tidak seberapa parah, masyarakat tetap diminta untuk tidak menganggap enteng, mengingat virus Covid-19 dapat memiliki dampak yang berbeda pada setiap individu.
Walau varian ‘Eris’ telah mendominasi sejumlah persentase dari sekuen di berbagai wilayah seperti Asia, Eropa, dan Amerika Utara, Budi mengimbau masyarakat Indonesia untuk tetap tenang. Meskipun lebih menular, masyarakat diingatkan untuk tidak panik dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang telah disarankan oleh otoritas kesehatan.
Beberapa gejala yang muncul pada pasien yang terinfeksi varian ‘Eris’ antara lain pilek, sakit kepala, kelelahan ringan hingga berat, bersin, serta sakit tenggorokan. Meskipun gejalanya mungkin tidak seberat varian sebelumnya, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti protokol kesehatan yang telah dianjurkan, seperti penggunaan masker, menjaga jarak sosial, dan mencuci tangan secara rutin.
Dengan adanya varian baru ini, penting bagi masyarakat untuk tetap mengikuti perkembangan informasi dari sumber yang terpercaya, seperti otoritas kesehatan dan lembaga resmi. Pencegahan dan kesadaran kolektif masih menjadi kunci dalam menghadapi tantangan varian baru Covid-19 ini, sehingga kita dapat melindungi diri sendiri dan masyarakat sekitar.
















