Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dunia kerja. Salah satu dampaknya adalah munculnya potensi pengangguran bagi beberapa profesi, dan kisah seorang penulis muda bernama Sharanya Battacharya adalah salah satu contoh nyata dari hal ini.
Berusia 22 tahun, Sharanya Battacharya sebelumnya bekerja sebagai ghost writer dan copywriter untuk sebuah agensi solusi kreatif. Dalam pekerjaannya, dia menghasilkan pendapatan lebih dari US$240 per bulan (setara dengan sekitar Rp 3,6 juta). Namun, hal ini mulai berubah sejak munculnya ChatGPT, sebuah chatbot buatan OpenAI yang menjadi viral sejak akhir tahun sebelumnya.
Sejak akhir 2022, beban kerja Sharanya Battacharya mulai berkurang secara drastis. Dia hanya diminta untuk menulis satu hingga dua tulisan per bulan. Meskipun perusahaan tempatnya bekerja tidak memberikan penjelasan yang jelas tentang pengurangan ini, Sharanya curiga bahwa hal ini terkait dengan penggunaan ChatGPT sebagai alat efisiensi biaya dalam pekerjaan penulisan.
Dampak dari pengurangan pekerjaan ini sangat dirasakan oleh Sharanya. Penghasilannya merosot hingga 90% dari jumlah biasanya, yang berdampak besar pada kehidupan sehari-hari. Penghasilan yang ia dapatkan sebelumnya digunakan untuk membiayai hidupnya bersama sang ibu, Bandana, yang bekerja sebagai penjual sari. Kini, mereka harus melakukan penyesuaian besar-besaran dalam biaya hidup sehari-hari.
“Kami harus memonitor berapa banyak makanan yang kami konsumsi dan tidak bisa lagi melakukan hal yang biasa dilakukan seperti pergi makan, kami hanya bisa melakukannya sekali dalam beberapa bulan saja,” ujar Sharanya. Ia, yang juga merupakan mahasiswa pascasarjana ilmu biologi di Indian Institute of Science Education and Research, merasakan dampak dari pengurangan pendapatan ini secara langsung.
Tidak hanya dampak finansial yang dirasakan oleh Sharanya, tetapi juga ketidakpastian pekerjaan. Keberlanjutan pekerjaannya sebagai penulis menjadi semakin tidak pasti karena perkembangan teknologi AI seperti ChatGPT semakin memudahkan dan efisien dalam menghasilkan konten tulisan.
Kisah Sharanya bukanlah kasus yang terisolasi. Di seluruh dunia, dampak teknologi AI telah dirasakan oleh banyak orang, dari karyawan Google yang terancam PHK akibat integrasi AI dalam produk Assistant hingga karyawan Adobe yang merasa terancam dengan kemampuan alat desain berbasis AI yang mampu menghasilkan karya sebanding.
Dampak AI terhadap dunia kerja menunjukkan bahwa pergeseran teknologi membawa konsekuensi yang signifikan, terutama dalam hal pengurangan pekerjaan dan perubahan cara kerja yang lebih efisien. Dalam menghadapi tantangan ini, individu-individu perlu terus mengembangkan keterampilan dan adaptasi untuk tetap relevan dalam dunia kerja yang semakin dinamis.
















